Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kampung Kopi Luwak Desa Prangat Baru: Dari Biogreening menuju Kampung Ekologi

Narsum                : Rindoni S.Pd

Kontributor        : Azis Rahmat Pratama


Rubrik                   : Fokus CSR 1


Title                       :  Kampung Kopi Luwak Desa Prangat Baru:  Dari Biogreening menuju Kampung Ekologi


 

Deck:

Di suatu tempat di Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, terdapat perkebunan kopi luwak yang telah menghasilkan 29.000 tanaman kopi produktif. Sebelumnya kebun ini merupakan perkebunan karet, yang kini telah bertransformasi menjadi penopang kemandirian ekonomi petani kopi. Mengapa transformasi ini terjadi? Bagaimana prosesnya? Mari kita simak bersama, kisah dari salah satu program TJSL yang digawangi oleh PT Pertamina Hulu Kalimantan Timur Daerah Operasi Bagian Utara (PHKT DOBU) ini.

Konten:

Kampung Kopi Luwak Desa Prangat Baru (Kapak Prabu), berada di Jalan Poros Samarinda KM 60. Lokasinya dapat ditempuh melalui perjalan darat dari Bandara AP Pranoto dengan durasi tempuh kurang lebih 45 menit. Kapak Prabu merupakan satu-satunya pionir pembudidayaan kopi liberika di Provinsi Kalimantan Timur sejak tahun 1997. Keunikan utama dari kampung kopi ini adalah keberadaan satwa musang luwak liar yang membantu proses fermentasi biji kopi. Daging buah kopi liberika sangat digemari oleh satwa musang luwak karena  tebal dan memiliki rasa yang manis.

Menuju kampung ekologi yang berkelanjutan

Gagasan pengembangan kopi liberika dimulai dari kondisi afkir dan menurunnya produktivitas pohon karet serta tidak stabilnya harga karet mentah hingga menyentuh titik akhir. Selama tahun 1994-1997, profesi petani karet menjadi tumpuan utama pemasukan warga transmigrasi Desa Prangat Baru.

Hingga kemudian di tahun 1997, Rindoni salah seorang tokoh masyarakat setempat melakukan inisiatif menanam kopi liberika di sela-sela pohon karet.Sak wit rong wit sik penting ora ngetokake duwit,” ungkap Rindoni. Ungkapan dalam bahasa Jawa ini bermakna “Satu dua pohon kita tanam, yang penting bisa berhemat (tidak perlu mengeluarkan uang).” Referensi berhemat di sini menunjukkan bahwa Rindoni bisa menyeduh kopi yang dipanen dari kebun sendiri alias tanpa perlu membeli.

Bibit kopi liberika ini dibawa dalam bentuk biji pada saat awal warga Desa Prangat Baru merantau ke Pulau Kalimantan. Menurut pemaparan Rindoni, ragam bibit kopi tersebut berasal dari daerah Temanggung dan Jember. Wilayah Desa Prangat Baru sendiri terdiri dari lembah dan perbukitan dengan rerata elevasi hanya 200 mdpl. Padahal pada umumnya, tanaman kopi dapat tumbuh subur di wilayah dengan ketinggian minimal 400 mdpl dan temperatur yang sejuk. Setelah ditanam sejak tahun 1997 s.d sekarang, tumbuhan ini sudah mulai beradaptasi dengan iklim wilayah Desa Prangat Baru

Sebelum digulirkannya program Kapak Prabu, musang luwak sering dianggap hama pemakan anak ayam (garangan) oleh warga masyarakat Desa Prangat Baru. Namun, kini hewan ini justru menjadi maskot dan “mitra dalam peningkatan taraf perekonomian petani dan warga masyarakat desa.  Berkat kegigihan dan semangat Pak Rindoni dan warga setempat dalam membudidayakan tanaman kopi, kini Desa Prangat Baru dikenal menjadi Desa Kampung Kopi Luwak.

Sosok Rindoni, warga Desa Prangat Baru yang pertama kali berinisiatif menanam biji kopi liberika yang dibawanya dari Jawa.

Padahal pada awalnya, Rindoni tidak tertarik memunguti biji kopi yang terhampar di kebun belakang rumahnya. Namun, pada tertengahan 2010 ada tamu dari Jakarta yang menyampaikan bahwa hasil fermentasi biji kopi dari kotoran musang luwak liar dapat menjadi komoditi yang menjanjikan. Pernyataan ini didukung dengan adanya pengakuan bahwa biji kopi liberika dapat dikategorikan sebagai produk halal, karena terlindungi dari cangkang yang sangat keras. Sejak saat itu, Rindoni dan para petani pun mulai mencoba mengumpulkan biji kopi tersebut. Kini pada saat panen raya, petani dapat mengumpulkan 2 kilogram biji kopi luwak basah dari hamparan kebun seluas 2 hektar.

Awal mula kelompok tani kampung kopi luwak bermitra dengan PHKT ialah pada tahun 2020 lalu. Saat itu, Santan Terminal sedang mengembangkan program biogreening. Program biogreening ini merupakan pengolahan dan fabrikasi sisa bahan baku limbah dapur non B3 yang diperoleh dari katering Terminal Santan menjadi pupuk kompos. Berdasarkan hasil konsolidasi dengan pemerintah Kecamatan Marangkayu dan Dinas Perkebunan Kabupaten Kutai Kartanegara, diperoleh informasi bahwa ada kelompok tani pembudidaya kopi liberika di Desa Prangat Baru. Kemudian mulai disalurkanlah pupuk kompos organik tersebut kepada kelompok tani tersebut. Hingga kini, sebanyak 1,7 ton pupuk telah disalurkan kepada kelompok tani Kapak Prabu yang kemudian dimanfaatkan untuk menjaga kesuburan tanah, serta sebagai campuran media tanam dan kegiatan pembibitan kopi.

Kelompok petani kopi Desa Prangat Baru ini memiliki visi untuk menjadi pionir pembudidaya kopi liberika di wilayah Provinsi Kalimantan Timur. Sedangkan misi spesifik mereka adalah meningkatkan sumberdaya pertanian yang berkesinambungan, mengupayakan kesejahteraan anggota melalui diversifikasi produk turunan kopi liberika.

Sejak tahun 2020, bersama PHKT, kelompok tani ini pun mulai mempersiapkan Kampung Kopi Luwak menjadi sentra edukasi budaya kopi khususnya di wilayah Kalimantan Timur. Persiapan yang mereka lakukan antara lain melakukan pengembangan infrastruktur, atribut edukasi, serta pengembangan kompetensi dengan cara mengikuti pelatihan penanaman hingga cara membuat kopi yang baik. 

Tentunya, dalam membina dan mengembangkan Kampung Kopi Luwak Desa Prangat Baru ini, PHKT tidak berjalan sendiri. Perusahaan terus mendorong kelompok tani ini untuk bisa secara mandiri mengembangkan jejaring dan memperluas mitra dan pasar. Dedikasi dan kegigihan mereka dalam mempromosikan produk serta kawasan wisata Kampung Kopi Luwak pun membuahkan hasil. Kini, sudah banyak mitra dan entitas bisnis yang turut memberikan dukungan kepada mereka, baik berupa bantuan fisik, pelatihan pengembangan produk, hingga pemasaran produk dan pengembangan pusat wisata alam kopi melalui pengembangan masterplan kawasan pariwisata.

Superintendant Santan Terminal, Binto Tobing, sudah sedari awal turut mendampingi kelompok ini dengan penuh antusias. “Dengan semangat AKHLAK (Amanah, Kompeten, Harmonis, Adaptif, Kolaboratif) , kami hadir mendukung keberlangsungan lingkungan dan pemberdayaan masyarakat untuk dapat hidup secara mandiri,” ujar Binto.

PHKT memilih strategi development within atau community development, dimana pengembangan kelembagaan kelompok merupakan kunci untuk meningkatkan kesejahteraan petani kopi di Desa Prangat Baru. Strategi ini dimulai sejak kick-off program kegiatan pemberian pupuk kompos, dilanjutkan dengan memfasilitasi FGD, dan penyusunan roadmap dan rencana kerja tahunan mulai dari tahun 2020 s.d 2024. Kelompok tani kampung kopi luwak Desa Prangat diproyeksikan akan mampu mandiri dan siap menjadi trainer (pelatih) untuk desa atau wilayah sekitar dengan potensi budidaya tumpangsari kopi liberika serupa mulai tahun 2024 mendatang.

Kelompok tani kopi luwak kami persiapkan untuk menjadi trainer bagi kelompok atau warga desa sekitar yang mempunyai potensi pengembangan kopi liberika serupa, sehingga pada saat exit program nanti, Kecamatan Marangkayu bisa dikenal sebagai sentra penghasil kopi dari Kalimantan,” ungkap Binto lebih lanjut.

Ikon Ekowisata Di Paru-Paru Dunia

Kampung Kopi Luwak Desa Prangat Baru kini digadang menjadi salah satu sentra budidaya tanaman kopi liberika dan ikon wisata di Kabupaten Kutai Kartanegara. Beragam tamu pun telah silih berganti mengunjungi kampung ini, mulai dari pelajar, entitas bisnis dan mitra perusahaan, hingga pejabat daerah seperti dinas serta lembaga riset, salah satunya Pusat Penelitian Kopi dan Kakao (PUSLITKOKA) Jember.

Pengembangan program Kampung Kopi Luwak Desa Prangat Baru, tidak hanya mampu memberikan dampak ekonomi yang signifikan. Progam ini juga mampu berkontribusi dalam pelestarian lingkungan, khususnya penghijauan hutan dan mengembalikan fungsi vitalnya sebagai paru-paru dunia.  Hasil program Kampung Ekologi Prangat Baru, melalui upaya replikasi penanaman kopi liberika, antara lain; serapan gas karbon dari kegiatan penanaman kopi liberika usia 3 tahun dengan jumlah 29.000 pohon dan diameter batang 2-3cm menghasilkan serapan karbon sebesar 750ton CO2 Equivalent. Pada waktu yang sama, tanaman kopi mampu mengeluarkan gas oksigen sebesar 480ton O2 Equivalent.

Dokumentasi Integrasi Budidaya Lebah Kelulut sebagai Penyerbuk Alami Bunga Kopi dalam rangka meningkatkan produktivitas pembuahan tanaman kopi liberika. .

Tanaman Kopi Liberika membutuhkan waktu kurang lebih selama 3 tahun sebelum dapat berbunga dan berbuah. Oleh karena itu, para petani perlu memperoleh pendapatan tambahan sembari menunggu masa panen dari biji kopi tersebut. Sebagai alternatif sumber pemasukan dari para petani, PHKT berinisiatif untuk menularkan ilmu budidaya lebah kelulut yang dimiliki oleh Kelompok Pembudidaya Lebah Karamunting dari Balikpapan kepada anggota kelompok tani kampung kopi luwak.

Sebagai upaya menjaga kelestarian habitat satwa musang luwak, kelompok tani ini berinisiatif untuk mendirikan rumah musang luwak. Tujuannya ialah untuk merawat satwa musang yang secara sukarela diberikan oleh masyarakat sekitar. Musang-musang ini tidak digunakan dalam proses produksi kopi. Akan tetapi setelah kondisinya pulih, mereka akan dilepas liarkan di kebun untuk membantu proses fermentasi secara alami. Selain itu, hal ini bertujuan untuk membantu proses reklamasi atau penghijauan hutan, karena sejatinya satwa musang luwak memiliki peran sebagai satwa pemencar biji buah tanaman hutan.

Beberapa pencapaian penghargaan yang diperoleh baik oleh kelompok tani kampung kopi luwak selaku mitra binaan dan juga PHKT DOBU selaku mitra pembina antara lain; PROPER Emas Tahun 2021, TOP CSR Awards 2022; PRIA Kategori CSR 2023; dan Penghargaan Desa ProKlim dengan kategori Madya. Selain mendapatkan berbagai penghargaan tersebut, Kampung Kopi Luwak secara rutin juga menjadi salah satu tempat destinasi kegiatan Summer Course: Borneo Leadership Camp, dimana Rindoni dan anggota kelompok melakukan kegiatan sharing knowledge kepada mahasiswa mancanegara asal negara-negara Asia Tenggara.

Sebagai penutup, pengembangan kawasan wisata baru ini perlu tetap memperhatikan kelestarian habitat satwa musang sebagai ruh dari Kampung Kopi Luwak itu sendiri. Sebab, tanpa keberadaan satwa musang luwak liar, maka keunikan dari program Kapak Prabu akan luntur. Terlebih lagi dengan mulai dikenalnya potensi lembah dan bukit di Provinsi Kalimantan Timur yang cocok dan ideal untuk pertumbuhan tanaman kopi liberika. PHKT senantiasa mendorong berbagai pihak untuk secara kritis melakukan pengembangan kawasan wisata dengan tetap memperhatikan prinsip konservasi satwa dan pengarusutamaan animal welfare.

Suptend Santan Terminal Bapak Binto Iskandar Tobing, sedang memberikan pemaparan kepada mahasiswa summer course perihal profil PT PHKT DOBU dan kontribusinya terhadap Program Kampung Iklim melalui revitalisasi sungai di Kabun Pilot Project Kampung Kopi Luwak.

Bapak Rindoni melakukan sortasi & pemetikan biji kopi liberika yang matang dan siap panen.


Dokumentasi Kunjungan Tahun ke-2 Program Pertukaran Pelajar Borneo Leadership Camp.

Tahapan bagaiaman biji kopi luwak liar dipungut, dikumpulkan, dan diolah menjadi sajian kopi luwak liberika khas Desa Prangat Baru yang nikmat.  

Posting Komentar untuk "Kampung Kopi Luwak Desa Prangat Baru: Dari Biogreening menuju Kampung Ekologi"

Ingin menghubungi saya? kirim pesan text melalui WhatsApp
Halo, saya Pratama (author blog ini) ada yang bisa saya bantu? ...
Klik saya untuk mengirim pesan WA...